Menu

Mode Gelap
Laksanakan Intruksi Presiden, Bupati Suhardiman Bangun Jalan 17 KM Lewat Dana APBN Hadiri Pekan Kenduri Budaya Riau di Jakarta, Bupati Suhardiman : Budaya Kuansing Siap Mendunia Sembunyi Dalam Kebun, 2 Orang Pelaku Pengeroyokan Mengakibatkan Korban Meninggal Ditangkap Polisi Nuzul Quran di Mesjid Agung, Bupati Kuansing Suhardiman Ajak Masyarakat Kuansing Cinta Al Quran Bupati Kuansing Suhardiman Sampaikan Safari Ramadhan Sebagai Sarana Komunikasi Silaturahmi

Nasional · 22 Sep 2022 15:54 WIB ·

Ancaman Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga


 Ancaman Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Rumah Tangga Perbesar

TOPRIAU – Beberapa hari yang lalu kita di hebohkan tentang berita seorang suami menganiaya istri hingga tewas yang terjadi di desa tanah baya kabupaten pemalang-jawa tengah di lansir dari iNews.com.

Penyebabnya sederhana, hanya gara-gara istri sering bermain medsos.
Lalu sang suami nekat menghabisi istrinya sendiri hingga tewas karena pelaku diduga sudah dibakar oleh api cemburu.

Dari penggalan fakta diatas hanyalah sebagian kecil saja tentang sebuah gambaran cerita pilu terhadap apa yang sesungguhnya terjadi pada wanita dalam menjalani kehidupan rumah tangga di tengah-tengah masyarakat kita saat ini.

Wanita seyogyanya adalah kaum lemah yang wajib untuk di lindungi.
dengan berbagai persoalan hidup yang dihadapi dalam mengarungi bahtera rumah tangga, sudah barang tentu tidak seindah yang di bayangkan ketika waktu masih menjalin hubungan asmara.

Banyak faktor yang membuat kekerasan dalam rumah tangga terjadi. Mulai dari permasalahan himpitan ekonomi, minim nya tingkat pengetahuan antar dan intra personal pasangan, hingga adanya campur tangan pihak ketiga yang bisa memperburuk situasi kemudian berujung kepada kekerasan dalam rumah tangga bahkan berakhir dengan suatu perceraian.

Peran orang tua sebagai tokoh sentral yang merupakan seorang pembimbing dan penyeimbang serta penasehat utama terhadap pasangan-pasangan yang baru menikah menjadi sangat penting dalam menentukan arah perkawinan dari anak-anak mereka kedepannya.

Orang tua di tuntut untuk mengambil posisi penting namun tidak boleh lupa bahwa ada batasan-batasan yang mesti harus di pahami sehingga hubungan mereka tidak menjadi lebih buruk karena salah menempatkan posisi.

Sekali lagi orang tua sebagai tokoh sentral penasehat utama harus bisa secara objektif melihat dan menilai permasalahan yang di hadapi oleh anak-anak mereka secara proporsional.

Di sisi lain, adanya kekerasan dalam rumah tangga yang di alami oleh kaum perempuan juga di akibatkan oleh ketidaksiapan baik secara mental maupun spiritual pada saat mengarungi biduk rumah tangga.

Di samping itu, Faktor emosi menjadi tolak ukur penting dalam melakukan sebuah tindakan.
dalam kondisi yang labil seorang pelaku kekerasan terkadang sulit untuk menahan amarah nya sehingga cenderung melakukan tindakan yang yang pada akhirnya harus berurusan dengan hukum.

Disinilah peran penting sebuah ilmu pengetahuan, bukan saja faktor kecerdasan secara intelektual yang di tuntut, namun kecerdasan secara emosional menjadi tolak ukur yang tak kalah penting nya dalam menyikapi serta mengambil sebuah tindakan atau keputusan terhadap sekian banyak permasalahan yang di hadapi.

Jika menilik dari data komnas perempuan dari hasil catatan tahunan atau CATAHU 2022 setidaknya tercatat dinamika pengaduan langsung ke Komnas Perempuan, lembaga layanan dan Badilag. Terkumpul sebanyak 338.496 kasus kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan dengan rincian, pengaduan ke Komnas Perempuan 3.838 kasus, lembaga layanan 7.029 kasus, dan BADILAG 327.629 kasus.

Angka-angka ini menggambarkan peningkatan signifikan 50% KBG terhadap perempuan yaitu 338.496 kasus pada 2021 (dari 226.062 kasus pada 2020). Lonjakan tajam terjadi pada data BADILAG sebesar 52%, yakni 327.629 kasus (dari 215.694 pada 2020).

Dari data yang di rilis oleh komnas perempuan.go.id tersebut bisa di lihat persentse peningkatan angka kekerasan terhadap perempuan terus menerus meningkat dari tahun ketahun.

Belum lagi para wanita yang enggan melaporkan kejadian kekerasan yang di alaminya dalam rumah tangga karena merasa malu dengan alasan merupakan aib keluarga atau takut bahkan mungkin saja diancam oleh pasangan nya membuat kaum hawa menjadi berfikir seribu kali untuk melaporkan kejadian tersebut kepada komnas perlindungan perempuan atau kepada aparat penegak hukum.

Semestinya apapun bentuk kekerasan terhadap perempuan dan dengan alasan apapun tidaklah di benarkan karena hal tersebut sudah menabrak aturan agama,norma,budaya serta etika dan sudah pasti melanggar sistem perundang-undangan yang berlaku di negeri ini.
saatnyalah perempuan mendapat perlindungan selaiknya baik dari internal keluarga,lingkungan sekitar hingga peran aktif dari pemerintah itu sendiri untuk mencegah serta memberi solusi agar kejadian seperti ini tidak terus menerus terjadi berulang kali. (Fitra)

Artikel ini telah dibaca 60 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Literasi Digital Segmentasi Pendidikan di SMPN 10 Tapung Kabupaten Kampar

1 March 2024 - 18:30 WIB

Kapolri Ucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru: Mari Rayakan Penuh Kedamaian

24 December 2023 - 16:09 WIB

Luncurkan SemuaNews, Ketua Dewan Pers Apresiasi yang Tinggi Pada Inisiatif JMSI

31 July 2023 - 12:10 WIB

Promosi Budaya dan Pariwisata Kuansing Dihadiri Puluhan Duta Besar Negara Sahabat

18 June 2023 - 14:01 WIB

Dalam Rangka Peningkatan Pelayanan Kepada Masyarakat, Suhardiman Ikuti Seminar FORWAKADA di Solo

12 June 2023 - 16:56 WIB

Hadiri Pekan Kenduri Budaya Riau di Jakarta, Bupati Suhardiman : Budaya Kuansing Siap Mendunia

10 June 2023 - 21:55 WIB

Trending di Nasional